IQ Jongkok, Peradaban Busuk, Plastisitas Otak dan Treatment Peradaban Islam: Rahasia dan Solusinya

Oleh: Syahrul Efendi Dasopang, Dewan Redaksi Pungtuasi.com

Berita gempar tentang IQ Jongkok Indonesia beberapa waktu lalu (2026), bukan untuk ditangisi, disesalkan, apalagi dirayakan. Namun untuk peringatan dan introspeksi, secara umum terhadap masyarakat, pemerintah sebagai regulator dan pengambil kebijakan, dan secara khusus kepada sekolah, pesantren, madrasah dan terkhusus lagi, buat para guru dan orang tua, hal itu jangan sampai tanpa respons.

Sebagaimana yang kita ketahui melalui pemberitaan media, bahwa data terbaru per April 2026 menunjukkan sekitar 142 hingga 199 negara yang diuji dalam studi rata-rata IQ global, IQ Indonesia alhamdulillah menempati rangking ke 131. Lumayanlah, nomor 11 bila ditinjau dari rangking paling buntut. Indonesia dengan jumlah populasi per akhir 2025 mencapai 288,3 juta jiwa, dengan rata-rata IQ 89,96. Adapun Iran, menempati rangking ke 4 dengan rata-rata 104,8. Data peringkat IQ global ini, sering dikutip dari World Population Review 2026 mencakup 142 negara.

Gambaran Skala Test IQ

Salah satu metode test IQ yang kerap digunakan untuk mengukur, yaitu Skala Kecerdasan Stanford-Binet. Yang diukur tentulah kemampuan kognitif, kerja memori otak, dan penalaran. Pokoknya kemampuan penalaran. Umumnya mencakup tes angka (deret angka, matematika pola), tes gambar (logika gambar, lipatan gambar), tes logika (penalaran spasial/abstrak), dan tes verbal (sinonim, analogi). 

Lalu kenapa Indonesia bisa sejongkok itu? Apa bangsa ini tidak punya kemampuan menalar secara normal? Atau punya gaya penalaran sendiri sehingga bangsa ini demikian istimewa dan “menghasilkan suatu peradaban ilmiah yang mempesona”?

Kognitif dan Plastisitas Otak

Di sinilah kita perlu menyadari dua hal: tentang kognitif dan fenomena plastisitas otak yang berkaitan dan berimplikasi dengan tingkat kecerdasan manusia.

Pertama apa itu kognitif?

Kognitif adalah seluruh proses aktivitas mental yang berkaitan dengan kemampuan berpikir, memahami, mengingat, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan. Ini melibatkan proses aktif menerima, mengatur, menyimpan, dan menggunakan informasi.

Nah, menurur survey yang menohok ego bangsa Indonesia tersebut, kognitif Indonesia memang jongkok. Kenapa bangsa lain di belahan bumi lain, seperti Iran yang malah dikebiri perkembangan peradaban ilmunya oleh Amerika, bisa mencapai peringkat jauh lebih tinggi dari Indonesia? Apa karena mereka makan bergizi gratis?

Tidak. Pertama yang harus disadari, sifat otak manusia yang diandalkan sebagai alat penalaran dan kerja-kerja kognitif lainnya, mirip seperti sifat material plastik. Ini menurut para ilmuwan. Dan itulah istimewanya. Apa maksudnya? Plastisitas adalah kemampuan suatu materi untuk mengalami perubahan bentuk (deformasi) secara permanen ketika diberi gaya atau beban, tanpa patah atau retak. Lebih jelasnya, plastisitas otak, atau neuroplastisitas, adalah kemampuan luar biasa otak untuk berubah, beradaptasi, dan merombak struktur serta fungsinya sepanjang hidup sebagai respons terhadap pengalaman, pembelajaran, lingkungan, atau pemulihan dari cedera. Otak bukan organ statis, melainkan jaringan dinamis yang membentuk jalur saraf baru (sinapsis) atau memperkuat/melemahkan koneksi yang ada. 

Jadi, otak dapat dengan sengaja dilatih beradaptasi dan berevolusi. Misalnya, dari jongkok, menjadi tegak layaknya homo sapiens. Lha, kalau nggak dilatih untuk beradaptasi dan berevolusi, otak bisa jongkok dan tumpul. Ingatlah bagaimana kisah Imam Ibnu Hajar belajar. (Kisah Ibnu Hajar Al-Asqalani adalah inspirasi ketekunan dalam menuntut ilmu, di mana beliau yang awalnya kesulitan memahami pelajaran (dianggap lambat/bodoh) dan ingin putus asa, akhirnya menjadi ulama hadis terbesar. Motivasi utamanya muncul setelah mengamati tetesan air hujan yang berhasil melubangi batu, menyadarkannya bahwa kesabaran dan konsistensi adalah kunci keberhasilan. Beliau merenung, “Batu yang keras saja bisa berlubang karena tetesan air yang konsisten, apalagi hatiku yang tidak sekeras batu”.)
Tapi ngomong-ngomong, apa sih maksudnya IQ jongkok itu? “IQ jongkok” adalah istilah slang atau bahasa gaul yang merujuk pada tingkat kecerdasan intelektual (IQ) yang sangat rendah atau di bawah rata-rata. 

Cara Kerja Otak

Sebagaimana yang sudah kita ketahui bahwa sifat otak manusia laksana plastik yang bisa di-upgrade, dibentuk dan dievolusi, dengan segala kompeksitasnya itu.

Bayangkan, otak memiliki 100 miliar sel syaraf, terdiri atas otak besar, otak kecil, batang otak, hingga dengan urat syaraf menjalar dan melibatkan semua organ panca indera, jantung dan sebagainya melalui macam-macam fungsi syaraf. Dalam mencapai upgrade dan evolusi kemampuan otak ini, hingga seperti IQ-nya bangsa Iran atau Vietnam-lah yang dirangking 9, manusia Indonesia harus dididik dengan watak ilmiah. Bukan watak klenik, ikonsisten, dan korup. Lho apa hubungannya? Ada. Pokoknya ada, kata Kang Ted.

Cara kerja otak itu sesuai sifat kerja ilmiah. Kalau otak dilatih sesuai sifat ilmiah, plastisitas otak dapat berkembang dengan baik, yang hasilnya tingkat kemampuan IQ pun dapat meningkat.

Sifat kerja ilmiah atau saintifik pada dasarnya adalah pencarian kebenaran berdasarkan data, fakta, dan metode ilmiah yang jujur, di mana integritas dalam pelaporan hasil sangat krusial. Kejujuran ilmiah ini melibatkan kejujuran intelektual, keterbukaan, dan kepatuhan terhadap etika. Cara kerja otak, sebenarnya tidak nyaman dengan ketidakjujuran, tidak suka melompat seperti logika klenik (sebab masalah, diare, tapi kesimpulannya, jin), dan bersifat konsisten.

Nah, di antara sifat imiah yang paling pokok ialah koherensi dan korespondensi. Korespondensi adalah kebenaran berdasarkan kesesuaian pernyataan kesimpulan dengan fakta objektif di dunia nyata atau lapangan. Sedangkan koherensi, pernyataan dan kesimpulan dipandang benar jika konsisten dengan temuan yang sudah diakui sebelumnya.

Selain korespondensi dan koherensi, sifat ilmiah juga akan menuntut dengan sendirinya konsistensi dan konsekwensi. Konsistensi adalah ketetapan, kemantapan, dan ketaatasasan dalam bertindak, berpikir, atau berperilaku secara terus-menerus. Dalam artian, antara pernyataan pendapat dan kesimpulan, sesuai dengan yang dipraktikkan.

Sedangkan konsekwensi adalah kesiapan untuk menanggung akibat dari temuan yang diperoleh ketika dipraktikkan.

Membandingkan Budaya Indonesia dengan Budaya Peringkat IQ Tinggi

Kembali ke Iran. Perang pernyataan antara Iran dengan Amerika, khususnya Donald Trump pada perang yang berlangsung saat ini, memberikan kita pengertian bahwa memang Iran pantas memiliki IQ tinggi. Apakah karena kemampuan Drone Syahid dan Rudal Sijjil-nya?

Bukan. Manakala kita perhatikan pemerintah Iran mengeluarkan pernyataan dan ancaman, hal itu benar-benar diwujudkan. Bukan bohongan atau korupsi dan manipulasi kata-kata. Iran mengatakan, jika Iran diserang, maka Iran akan membalas dengan meningkatkan skala perang menjadi perang regional dan menutup Selat Hormuz. Ternyata, ancaman itu benar dan nyata dilakukan.

Inilah yang disebut konsisten, koheren, koresponden dan konsekwen. Akibatnya, respon otak berjalan sesuai cara kerja ilmiah. Dan bangsa Iran terdidik dengan sifat semacam itu selama 2 generasi belakangan sejak Revolusi Islam. Jadi wajar, otak bangsa Iran tersebut beradaptasi secara plastis dengan pola saintifik yang menuntut koherensi, korespondensi, konsistensi dan konsekwensi, yang bila dipadatkan dalam satu istilah, yaitu kejujuran pikiran, penalaran, sikap dan tindakan. Bangsa yang terlatih jujur sejak pikiran, penalaran, hingga sikap dan tindakan, tentulah berkembang menjadi berkemampuan kognitif yang tinggi alias IQ tinggi.

Sekarang tolehkan perhatian ke bangsa Indonesia yang IQ jongkok menurut survey alias urutan ke – 126.

Sebenarnya tidak tega menguraikan hal ini. Tapi lebih baik kita akui sebagai kenyataan agar kita dapat keluar dari problem tersebut.

Sejak sistem politik yang korup dan transaksional dijalankan sesudah reformasi yang ditandai dengan pemilu langsung anggota legislatif dan pilpres berdasarkan one man one vote, kesibukan berbohong, manipulasi, korupsi dan segala tindakan yang bertentangan dengan kejujuran dan akal sehat, menjadi berkembang pesat sebagai budaya publik yang dipromosikan para politisi, partai dan elit-elit. Akibatnya, kinerja plastisitas otak berkembang melawan kodrat saintifik, sehingga tingkat IQ masyarakatpun menurun, karena dilatih secara rutin untuk memahami dan menerima kebohongan, inkonsistensi, dan kontra konsekwen sebagai sebuah hal yang normal. Walhasil, bangsa Indonesia menormalisasi kebohongan, ketidakjujuran, manipulasi, korupsi dan anti ilmiah. Inilah bencana budaya politik pasca reformasi yang merusak IQ dan membuat IQ jongkok bangsa Indonesia. Dan kerusakan ini terus dinormalisasi, dibiakkan dalam konvensi dan bahkan di dalam praktik pendidikan melalui sekolah hingga kampus. Jadi wajar, Indonesia IQ jongkok karena ulah partai, praktik kampanye politik oleh para politikus, hingga para pejabat yang tidak hirau dengan IQ jongkok.

Intinya membudayakan ketidakjujuran, merusak gaya bekerja otak dan akibatnya plastisitas otak terjadi kepada sebakiknya: tidak saintifik, penalaran yang bengkok dan penumpulan memori.

Kesenjangan IQ dan Ketergantungan

Sebenarnya, secara potensial, setiap anak manusia dimana pun berada dan dari latar belakang manapun, selagi otaknya berfungsi normal secara mekanisme biologis, dapat berkembang dengan kemampuan penalaran tinggi dan kompleks alias IQ (Intelligence Quotient) tinggi. Asupan gizi memang membantu. Tapi faktor penggemblengan plastisitas otak secara baik dan juga hati, merupakan faktor dominan dan penentu IQ tinggi.

Di Indonesia, sengaja dibuat kesenjangan akses pendidikan bermutu pada segolongan masyarakat yang makmur supaya merekah yang memiliki IQ yang lebih unggul dari masyarakat kebanyakan guna melestarikan ketergantungan satu pihak kepada pihak lainnya, khususnya dalam bidang ekonomi dan akses kekuasaan. Jadi, dapat disimpulkan, bahwa wabah IQ jongkok yang ditanggung masyarakat kebanyakan, hanyalah skema politik yang licik dengan sengaja. Dibuatlah akses kepada pendidikan yang unggul dan berfasilitas tinggi hanya dapat dijangkau segolongan kecil masyarakat.yang makmur. Dan golongan inilah yang diatur untuk menguasai masyarakat yang dilanda IQ jongkok.

Solusi
Kita harus mengakui, Indonesia saat ini dicengkeram peradaban busuk guna melanggengkan ketergantungan dan berkuasanya segelintir atas mayoritas.

Tapi Islam sebagai panduan hidup yang dianut oleh mayoritas masyarakat Indonesia telah mengajarkan prinsip-prinsip memberantas IQ jongkok alias kemampuan penalaran yang rendah.

Pertama, membiasakan penalaran yang koheren, koresponden, konsisten dan konsekwen. Inilah hakikat kejujuran. Dan inilah sifat asli peradaban Islam yang dikembangkan di Madinah kepada masyarakat oleh Rasulullah Muhammad Saw.

Itulah sebabnya beliau dikenal sebagai Al Amin. Dia mengajarkan intoleransi terhadap ketidakjujuran. Dia mengecam dan melarang berkembangnya sifat munafik. Dia mempromosikan sikap terbuka dalam berpendapat. Dia tidak memberi tempat pada kultur “lain di bibir lain di hati”. “Lain di mulut lain di tindakan”. Kaburo maqtan ‘indallahi an taqulu malaa taf’alun. (Besar sekali kemarahan Allah, bahwa kalian berkata tapi tidak melakukan).

Sikap saintifik dasar inilah yang memicu perkembangan peradaban Islam di abad pertama hingga ketiga hijriah yang puncaknya pada masa Harun Al Rasyid, Kekhalifahan Abbasiyah. Abbasiyah dengan suasana metropolitan kota Baghdadnya yang teratur, canggih dan ramai dengan aneka ilmuwan, adalah puncak pencapaian peradaban ilmiyah umat Islam yang menjadi mercusuar dunia di zamannya.

Walaupun sistem dan praktik pendidikan Indonesia sudah begitu korup dan tidak menunjang iklim ilmiyah yang subur, karena matinya meritokrasi dan berkuasanya uang dalam menentukan jabatan dan proyek riset, kita tetap mendapatkan peluang untuk mendidik penalaran dan sikap generasi kita.

Penulis ini telah menyusun buka ajar bagaimana operasi berpikir bekerja dan model-model berpikir yang dapat ditempuh dan dipraktikkan guna mendapatkan solusi atas suatu masalah. Buku ajar itu oleh penulis diberi judul: Ilmu Berpikir.

Semoga hal ini menjadi iktibar. (*)

Berita Terkait

Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan dari MBG?

Oleh: Kusfiardi, Analis Ekonomi Politik. Di tengah ambisi besar negara menghadirkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan alokasi anggaran mencapai Rp335 triliun pada 2026, muncul pertanyaan mendasar: apakah program ini… Baca selengkapnya ->

Ketika “Pokoknya Ada” Menjadi Masalah Negara

Oleh: Pius Lustrilanang. Pernyataan “pokoknya ada” yang disampaikan Sekretaris Kabinet ketika menjawab pertanyaan publik mengenai sumber anggaran kegiatan pesta rakyat di Monas seketika menjadi perhatian luas. Kalimat tersebut tidak berdiri… Baca selengkapnya ->

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini

IQ Jongkok, Peradaban Busuk, Plastisitas Otak dan Treatment Peradaban Islam: Rahasia dan Solusinya

IQ Jongkok, Peradaban Busuk, Plastisitas Otak dan Treatment Peradaban Islam: Rahasia dan Solusinya