‘Idul fithri, artinya kembali ke fitrah. Balik ke kodrat awal manusia. Yang bersih dari dosa. Seumpana bayi, yang belum ternodai akibat hawa nafsu manusia.
Secara spiritual, 1 Syawal, momen ‘Idul Fithri, merupakan hari baru bagi seorang Muslim. Setelah sebulan berusaha meremajakan kondisi spiritualnya. Sebulan lamanya mengekang hawa nafsu. Sebulan lamanya menyelaraskan diri dengan kehendak Allah terhadap hamba-Nya.
Maka setelah ramadhan, ketika selepas mengakhiri puasa sebulan penuh, seorang Muslim menyempurnakannya dengan dua hal:
Pertama, membayar zakat. Zakat artinya kesucian. Dengan membayar zakat, semakin sempurnalah tujuan puasanya untuk mensucikan diri dari dosa-dosa yang dibuat selama 11 bulan sebelum itu.
Zakat fitrah, kesucian fitrah diri. Zakat mal, kesucian harta yang dimiliki. Mensucikan diri dan harta, yaitu dengan mengeluarkan harta yang dimiliki sejumlah takaran yang sudah ditentukan sendiri oleh Allah. Hakikatnya zakat yang dikeluarkan itu peruntukannya untuk Allah, namun pengejawantahan untuk fakir, miskin, orang yang berjihad di jalan Allah, musafir yang kehabisan ongkos, orang yang berhutang, yang belum merdeka, mualaf, dan amil sendiri. Demikianlah Allah mengobjektivikasi ibadah pada Diri-Nya oleh makhluk-Nya, yang kembali kepada golongan manusia yang lemah dan membutuhkan.
Itulah sebabnya, sebenarnya zakat ini lebih afdhalnya dibayar praktis setelah menunaikan puasa ramadhan. Sebab ibadah zakat, pamungkas dari puasa.
Kedua, setelah puasa, ditutup dengan sholat ‘Id secara beramai-ramai, tidak saja laki-laki, tapi juga perempuan. Tidak saja orang-orang tua, tapi juga anak-anak, tumpah ruah mengagungkan Allah di pagi hari 1 Syawal dan menunjukkan rasa syukur kepada Allah dengan menegakkan sholat ‘id berjamaah. Semua saling melihat satu sama lain. Semua saling berjabat tangan. Melepaskan perasaan terpendam, baik rindu maupun benci. Di momen itulah semua saling memaafkan. Tujuannya lagi-lagi untuk mendapatkan kondisi jiwa yang bersih dan suci dalam memulai hidup yang baru.
Memaafkan sekaligus mengambil permaafan dari orang-orang dipergauli adalah perintah-Nya. Tentu ada saja kesalahan, ketidaksukaan, ketersinggungan, dan konflik yang tercipta dalam hubungan pribadi dan sosial.
Untuk itulah kita disuruh oleh Allah, mengambil permaafan seperti halnya suruhan untuk mengambil zakat bagi yang sudah haul dan nishobnya tercapai.
Dengan demikian, seorang muslim yang baru saja selesai menunaikan puasa ramadhan dan zakat, dapat memulai hidup baru dengan sikap baru, lapang dada, dan semangat baru yang lebih dekat dengan Allah.
Surat Al-A’raf Ayat 199
خُذِ ٱلْعَفْوَ وَأْمُرْ بِٱلْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْجَٰهِلِينَ
Artinya: ambilla permaafan dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.
Surat Ali ‘Imran Ayat 159
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ
Artinya: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
Syahrul Efendi Dasopang, Dewan Redaksi Pungtuasi.com.



