Korupsi Moral, Korupsi Ideologi dan Korupsi Agama di Indonesia: Penyulut Kebutuhan Revolusi

Hari-hari ini, kita mungkin kagum dan takjub dengan pencapaian Iran yang begitu kuat mengimbangi agresi komplotan raksasa militer: Amerika Serikat (AS) dan Israel. Menurut saya, jangan berhenti kagum dan bersorak karena merasa telah diwakili oleh Iran aspirasi kita dalam menghadapi dan membalas keangkuhan dan kesewenang-wenangan negara penindas seperti AS dan Israel. Kita harus berpikir, mengapa Iran mencapai kekuatan semacam itu dan darimana mereka memperolehnya?

Di sini saya pikir, kita harus sampai pada kesimpulan bahwa kekuatan Iran itu diantarkan oleh jalan revolusi yang ditempuh Iran pada 47 tahun (1979) silam.

Ada 2 alasan Indonesia perlu mengikuti jalan Iran 47 tahun lalu dalam memecahkan masalah nasionalnya.

Pertama, sama-sama sudah mencoba berbagai sistem yang diadopsi dari Barat, mulai dari feodalisme yang dibeking kolonial, sosialisme, komunisme, kapitalisme, militerisme, sampai sekarang pasca sistem pilpres langsung berupa campuran dari semua aspek isme-isme tersebut sebagai tameng, kedok dan kendaraan bagi berkuasanya kaum oligarki politik dan ekonomi di atas pundak rakyat. Seluruh ekprimen ini sudah gagal dalam memenuhi kepentingan dan harapan rakyat, kalau bukan makin memperbodoh dan memperkuda rakyat saja. Rakyat kehilangan kemandirian, kekuatan, dan harapan kesejahteraannya.

Kedua, lama kelamaan, agama sebagai penjaga kekuatan batin rakyat pun sudah dikorup oleh elit-elit oligarki yang berkuasa di segala sektor.

Berkali-kali aneka menteri agama terseret pidana korupsi, menandakan rusaknya agama dipakai untuk memperkaya diri. Agama tidak lagi dihargai sebagai objek yang sakral. Demikian juga moral dan ideologi nasional yang sedikit banyak terbentuk dari pemahaman agama, juga dikorup sudah sejak lama. Pemahaman dan praktik yang korup terhadap ideologi nasional dan moral pergaulan, sudah berjalah demikian jauh, dan hampir sudah sampai pada batas putus asa untuk mengoreksinya. Korupsi digelar secara nasional melalui beragam proyek untuk maksud meraup dana yang diambil dari negara, dan setiap pihak berlomba menggelar hal yang sama dan beradu ganas menyambar apa yang bisa disambar dari sumber pendanaan negara.

Akibatnya, ekonomi rente merajalela. Oligarki terbentuk dan menggurita dimana-mana, tanpa rasa bersalah, tanpa ada koreksi. Moral korup yang mengemuka ialah selagi engkau berkuasa, rampas dan hisap semuanya. Toh nanti, jika giliran yang lain berkuasa, mereka juga akan melakukan hal yang sama. Inilah basis moral korupnya. Dan rakyat, berada dalam ketidakberdayaan. Sementara agamawan, juga melegitimasi moral korup ini, dengan bersikap bungkam, atau menerima percikan dana korupsi melalui beragam modus bantuan.

Dari kondisi yang parah ini, hemat saya hanya jalan Iran 47 tahun yang lalu itu yang dapat memecahkan secara logis situasi Indonesia saat ini.

Adapun perkara bagaimana caranya, itu persoalan lain, dan bisa dirinci bahasannya di lain waktu. Yang terpenting, tidak ada lagi jalan lain, selain jalan Iran 47 tahun lalu, walaupun sudah terlambat nyaris setengah abad.

Sebab korupsi di Indonesia, telah begitu sistemik dan telah merusak praktik agama. Agama pun dikorup demi melanggengkan oligarki tanpa malu-malu. Indonesia akhirnya berada dalam kondisi rentan, dan menyediakan diri untuk diperas dan dilemahkan secara bersama-sama: pihak asing dan oligarki domestik. Bayangkan keduanya bekerjasama memeras dan mengekaploitasi negara ini. Pembuktian nyata dari kesimpulan ini ialah, telitilah eksistensi Singapura. Negara itu adalah hasil kerjasama oligarki domestik yang bersekongkol dengan asing. Bahkan termasuk Israel di sana.

Syahrul Efendi Dasopang, Dewan Redaksi Pungtuasi.com.

Berita Terkait

Muhammad bin Abdullah Memang Memilih Iran Sejak Awal

Sekilas Dinamika Imperium Iran Pada masa Muhammad bin Abdullah, biasa dikenal Nabi Muhammad SAW, imperium Persia dipegang oleh Dinasti Sasaniah, dengan nama Rajanya, Khusru II. Khusru II adalah salah satu… Baca selengkapnya ->

Shoichi Sakata, Juni 1968 : Filsafat dan Metodologi Sains Masa Kini

Sumber : Suplemen Kemajuan Fisika Teoretis , No. 50, 1971. Pertama kali diterbitkan : dalam surat kabar berkala Universitas Nagoya ( Nagoya Daigaku Shinbun 13 Juni 1968, No. 300) yang diedit oleh mahasiswa, memuat pidato penulis… Baca selengkapnya ->

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini

IQ Jongkok, Peradaban Busuk, Plastisitas Otak dan Treatment Peradaban Islam: Rahasia dan Solusinya

IQ Jongkok, Peradaban Busuk, Plastisitas Otak dan Treatment Peradaban Islam: Rahasia dan Solusinya